Telan Anggaran Rp 5,5 M, Progres Pembangunan Museum Seniman 70 Persen
Kamis, 04 Oktober 2018 08:09 WIB
BANTUL (wartakonstruksi.com) – Proses pembangunan Museum Seniman Giri Sapto di Bukit Gajah, Girirejo, Wukirsari, Imogiri Bantul berjalan lancar. Progres pembangunan yang didadai dengan Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp 5,5 miliar telah mencapai 70 persen. Museum seniman dibangun agar masyarakat dapat mengetahui karya-karya seni bersejarah yang bernilai tinggi dari seniman dan budayawan DIY. "Pak Gubernur menyetujui dibangun museum. Mereka yang meninggal itu harus menyerahkan satu koleksinya ke sana,” ucap Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Budi Wibowo SH MH kepada wartakonstruksi.com di ruang kerjanya. Baca juga: Menurut Budi, DIY merupakan salah satu gudang seniman dan budayawan. Namun belum ada museum yang terkait para seniman secara keseluruhan. Karena itu, melalui museum yang tengah dibangun itu nama besar para seniman dapat diketahui generasi penerus. “Arahnya untuk mengenang beliau (para seniman), kemudian akan menginspirasi dan memotivasi pengunjung museum untuk berkreasi dan inovasi. Nanti generasi yang akan datang tahu seniman besar seperti Bagong Kussudiarjo, Affandi dan lainnya," terang Budi. Ia menjelaskan, selain mengenang para seniman melalui karya-karyanya, museum juga akan diarahkan untuk wisata. “Ini hanya bagian kecil dari rencana besar pembangunan sector pariwisata,” katanya lagi. Papan pengumuman pekerjaan konstruksi museum seniman yang digarap PT Putera Jaya Andalan. Foto: Arif K Fadholy Selain Dinas Kebudayaan DIY, lanjut Budi, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY telah  mengumpulkan arsip-arsip dari para seniman. Kurang lebih ada 70 seniman yang sudah mengumpulkan arsipnya di BPAD. Hal itu bertujuan agar masyarakat yang berkunjung ke museum dapat mengenang masa lalu para seniman di DIY. Rencananya, arsip dan karya para seniman akan ditampilkan secara temporer di ruangan khusus. "Di situ juga mungkin besok kita buat cerita. Misalkan yang meninggal seniman A, kemudian ada ada nama-namanya terus ada barcode-nya masing-masing. Maka ada cerita sejarah seniman di handphone kita," kata Budi.

Wartakonstruksi.com menyempatkan melihat langsung proses pembangunan museum. Sayang di lokasi, jurnalis media ini sempat dilarang mengambil gambar pembangunan gedung oleh staf dari kontraktor pelaksana, PT Putera Jaya Andalan, bernama Hadi. Hadi menyarankan agar meminta foto di Dinas Kebudayaan DIY.

Tidak hanya bangunan, papan pengumuman pembangunan museum juga tidak boleh diambil gambarnya, namun setelah didesak Hadi akhirnya membolehkan. "Tidak boleh foto-foto, minta di dinas saja. Ya sudah, papan keterangan yang di luar itu boleh difoto," ucap Hadi ketus.

Jurnalis : Arif K Fadholy Editor     : Sodik
Penulis :
Editor : wkeditor
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News