SLEMAN (wartakonstruksi.id) – Bencana putting beliung yang terjadi di Sleman, Jumat (22/2/2019) berdampak pada kerusakan infrastruktur yang cukup luas. Di antaranya tembok Gedung Olahraga (GOR) Donokerto yang ambruk disusul ambruknya tower antenna yang ada di lokasi yang sama.
Runtuhnya tembok setinggi 12 meter pada gedung yang juga merupakan barak pengungsian itu diduga karena bangunan tidak kuat menopang kuatnya angin.
“Waktu kejadian saya sedang bekerja di kantor desa, tapi posisinya sangat gelap sehingga saya tidak tahu kejadian pas roboh tembok itu. Kejadiannya sekitar jam setengah tiga, tahu-tahu tembok roboh beserta tower antena milik desa serta sebagian kantor desa,†ungkap Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Donokerto, Sukiman (56).
Baca juga:
Dia mengatakan, bangunan difungsikan sebagai barak pengungsian namun difanfaatkan pula sebagai gedung olah raga atau GOR yang dibangun oleh pihak desa sejak tahun 2014 dengan dukungan anggaran dari Pemda DIY dengan total anggaran mencapai Rp 1,21 Â miliar.
“Kalau gedung ini yang membangun pihak desa, dibangun sejak 2014 secara bertahap jadi setiap tahun dianggarkan, baru selesai pembangunan tahun 2018. Yang pertama bantuan Rp 500 juta dari desa Rp 125 juta ditambah Rp 195 juta pertahun sebanyak tiga kali yakni Rp 585 juta,†paparnya.
Menurutnya  Sukiman, pengerjaan proyek dilakukan secara swakelola desa dengan ukuran konstruksi seluas 34 x 28 meter. Dijelaskan pula untuk menyikapi insiden ini  pihak desa akan menindaklanjuti dengan segera mengelar rapat.

“Akan kita koordinasikan dengan Kepala Desa namun perbaikan akan kita prioritas pada kantor desa. Tahap pertama akan kita bersihkan dulu baru kita perbaiki, padahal sedianya pada tanggal 6 Maret akan dipakai event olehraga Jarum Fundation,†terangnya.
Salah satu warga mempertanyakan kekuatan konstruksi bangunan .â€Untung saja tidak ada yang sedang olah raga di tempat tersebut, perlu pertanggungjawaban pelaksana konstruksi,†sergah  Supri warga Padukuhan  Gabukan.
Eko Purwono
Â
| Penulis |
: |
| Editor |
: wkeditor |