BENDUNG SAMBEREMBE: Ditangani Darurat, Penanganan Lanjutan Diusulkan BBWSSO Lewat APBN
SLEMAN (wartakonstruksi.id) – Penanganan Bendung Samberembe yang amblong terus dilakukan dengan perbaikan darurat oleh Pemkab Sleman dengan menggandeng CV Bunga Padi. Ke depan, penanganan lanjutan bendung akan diusulkan melalui APBN.
Hal ini diungkap Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Ir Suyanto M.Eng saat meninjau langsung kondisi Bendung Samberembe beserta Kepala BBWSSO yang baru dan rombongan, Senin (11/2/2019).
Ir Suyanto mengungkapkan, saat ini tengah dilakukan penanganan darurat oleh Pemkab Sleman. Sedangkan untuk penanganan lebih lanjut, pihaknya akan berupaya mengusulkannya lewat APBN. Usulan tersebut, menurutnya, juga atas hasil koordinasi dengan pihak kabupaten.
Baca juga:
Ia menjelaskan Bendung Samberambe sudah berusia tua, dibangun 40 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1979 oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Mengingat usianya itu, maka diperlukan adanya perbaikan lanjutan.
Kerusakan yang timbul, lanjut dia, bisa saja disebabkan oleh faktor usia bendung yang sudah terlalu lama sehingga muncul piping karena adanya lapisan poros di bawah dasar bendung. Untuk mengamankan eksistensi bendung tersebut pihaknya akan segera mengusulkan perbaikan lanjutan melalui dana pusat pada tahun mendatang.
"Ya adanya piping karena adanya lapisan poros dibawah dasar bendung. Untuk penanganan lebih lanjut kami sudah berkoordinasi dengan kabupaten dan akan coba usulkan melalui APBN di 2020," jelas Yanto.

Sementara itu, Harjaka ST MT, Kasubag TU UPT PSDA Wilayah Tengah, Dinas PUPKP Kabupaten Sleman mengatakan hal serupa. Menurutnya, dengan usia bendung yang sudah tua seharusnya sudah dilakukan perbaikan. Apalagi beban tumpu di sungai terlalu berat sehingga turun di lantai bangunan bendung.
“Malam Jumat juga ada banjir. Sekarang ini kami melakukan penanganan darurat. Dua alat berat dikerahkan untuk membuat tanggul agar air tidak mengalir ke lubang sekaligus untuk antisipasi apabila turun hujan,†katanya.
Dia menambahkan, lubang yang menganga berdiameter sekitar 4x4 meter dengan kedalaman 7-9 meter. Pada penanganan darurat ini, lubang ditutup dengan batu cor untuk mengamankan jembatan dan mercu. Kemudian apabila lubang sudah tertutup maka petani akan kembali mendapatkan suplai air.
“Sekarang ini masa tanam pertama, petani harus mendapatkan air. Air dari bendung ini mengaliri areal persawahan seluas 210 hektare di wilayah Selomartani dan Wedomartani,†tambah Wahyudi, Pengamat Pengairan Bidang SDA, Dinas PUPKP Sleman.
(Redaksi WK)
| Penulis |
: |
| Editor |
: wkeditor |